Feeds:
Pos
Komentar

Pastikan laptop/PC sudah terhubung dengan internet, kemudian Download apikasi di alamat http:// http://118.98.221.206/, Klik tombol Download.

Extrak kedalam folder khusus yang sudah di siapkan kemudian jalankan.

Klik pada tombol Online

Kemudian masukan nomer NPSN Sekolah yang di pakai sebagai User name, kemudian Masukan password (Mintalah pada teman operator yang ikut pelatihan di LPMP Jawa Tengah) setelah itu klik tombol Login.

Jika pertama kali login maka akan di minta untuk merubah password dan mengisi identitas

Isikan nama petugas sesuai dengan yang di inginkan, rubah status menjadi Aktif kemudian masukan nomer hanphone dan password baru. Klik Save jika sudah selesai, kemudian lakukan login ulang dengan password yang baru.

Setelah berhasil login nama pertugas akan tampil pada seblah nomer NPSN Sekolah

 

Pembuatan Master Data Lokal

Langkah pertama yang di lakukan operator kelas adalah membuat master data lokal, klik pada tombol menu Pembuatan Master Data Lokal.

Kemudian pilih pada Pembuatan File Data Lokal Guru Sasaran.

  1. Pilih Jenis diklat GS
  2. Region Jawa Tengah Jenjang SD
  3. Klik Tampilkan Data
  4. Pilih Kode kelas (kode Kelas tiap TPK akan di beritahukan Oleh operator Kurikulum Dinas)
  5. Klik Tombol Tampilkan Data Peserta
  6. Create Biodata Lokal

Simpanlah data lokal ke dalam folder yang sudah di siapkan. Klik tombol save

Akan ada proses kemudian akan ada pemberitahuan jika proses pembuatan master data lokal sudah selesai.

    #Lakukan langkah ini sebelum hari pelaksanaan diklat

 

Managemen Diklat

Klik pada tombol Manageent Diklat, kemudian pilih Buka Data Lokal. Pilih file data lokal yang sebelumnya sudah kita simpan

Klik open. Jika berhasil maka akan tampil info di atas tombol management Diklat dan akan muncul banyak pilihan menu jika tombol Management Diklat di tekan.

  1. Pengaturan Nomor Urut Dalam Kelas untuk mengurutkan nomer peserta
  2. Biodata Peserta digunakan untuk mencetak bidoata peserta berdasarkan data yang ada di server, berikan pada peserta untuk di tanda tangai (Jika data peserta belum ada atau menggantikan, berikan form biodata kosong untuk diisi manual kemudian laporkan pada tIM Teknis LPMP Jawa Tengah yang sedang bertugas)
  3. Pencetakan kartu peserta untuk mencetak kartu peserta, lakukan sebelum kegiatan di mulai.
  4. Pembuatan Master Excel, buat master excel , pilih pada Guru Sasaran


Klik pada Buat Master Pencetakan kemudian klik pada Buat Master Penilaian, kalo sudah selesai maka akan muncul 2 file excel pada folder tempat kita menyimpan file Data Lokal.

Setelah file master excel berhasil di buat, bacalah petunjuknya, selanjutnya kita bekerja dengan file excel penilaian untuk memasukan Input Kehadiran harian, Nilai Pre dan Post, Nilai Ketrampilan dan Nilai Sikap Gabungan. Berikan Sheet Nilai Ketrampilan dan Nilai Sikap Gabungan kepada narasumber (IN) untuk di isi. Input secara manual jawaban tiap peserta di Sheet Pre dan Post Test. Upload tiap hari untuk Sheet Input Kehadiran. Sedangkan Sheet Pre Test upload pada hari kedua, sisanya di upload pada hari terahir atau ke lima.

File excel “Master Cetak” berisi Formulir Pencetakan Aktifitas Kepanitiaan dengan referensi dari Buku Pedoman Pelatihan Kurikulum Dengan Data Otomatis terisi dari data Hasil Verval Operator Seluruh Indonesia per kelas

 

Pengiriman Penilaian

Lakukan pengiriman Sheet input kehadiran setiap hari, caranya klik pada Pengiriman Penilaian kemudian pilih Pengiriman Data Ke Server Pusat

Pada pulldown menu kita ketik angka 2, kemudian klik OK

  1. Klik pada tombol Buka File Excel
  2. Pilihfile excel penilaian yang sebelumnya sudah di isi dengan kondisi
    1. File excel tidak dalam kondisi terbuka
    2. File excel tetap dalam format excel 1997-2003
  3. Pilih Sheet, jika ingingin mengirim Input Kehadiran pilih pada sheet Input Kehadiran
  4. Dipilih mau mengirim Input Kehadiran hari ke berapa
  5. Klik pada tombol Kirim Data Ke Server

Akan ada konfirmasi jika data berhasil di kirim, dan di file excel juga ada info tambahan yang berisi tanggal upload data. Untuk mengirim data pada sheet lain caranya hampir sama. Setelah semua data terkirim, simpan file excel penilaian kemudian kirimkan ke fpmp.dikmen@gmail.com untuk backup jika aplikasi bermasalah di kemudian hari dan bukti bahwa opeartor kelas sudah berhasil menjalankan kewajibannya.

 

Terima kasih, jika ada kesulitan silahkan menghubungi Abimanyu 082225935050

1. Template untuk menginput data peserta pelatihan yang sudah di lengkapi dengan sheet untuk mencetak absen, nilai dan sebagainya. Template Data Peserta Kur2013

2. File Presentasi Putut J Wibowo yang di sampaikan saaat pelatihan operator, Manajemen Kelas menggunaka Aplikasi Panitia 3

3. File prsentasi tambahan mengenai pelatihan kurikulum 2013 Pelatihan_Kurkulum_Tahun2014

4. File Contoh Hasil Aplikasi Panitia GB [L03-03-A1-1] 24-04-2014 Penilaian OK

5. Untuk Aplikasi silahkan download di  Aplikasi PANITIA – NS  v_3_5 

6. Aplikasi Verval Kurikulum donwload di http://118.98.221.206/

 

Untuk komunikasi masalah Aplikasi Panitia silahkan Hubungi :

  • Putut J Wibowo : 08562667715
  • Abimanyu : 082225935050 (WA)/BBM : 74bfbbb4

 

 





Harga : Rp. 220.000 / Tema

Baru Tersedia kelas 1 Tema 1 dan Kelas 4 Tema 1

Hub.

  • Turyanto 081390502811
  • Abimanyu 082325826662 (Telp/sms/WA)

Pelaporan pendampingan kurikulum 2013 menggunakan aplikasi pendampingan kurikulum 2013 Terbagi menjadi dua proses yaitu proses pembuatan file master excel dan proses upload laporan.

Pembuatan Master Excel

  • Jalankan aplikasi Pendampingan

Aplikasi Pedampingan ada di CD Aplikasi yang diterimakan pada saat registrasi diklat atau bisa di download di http://118.98.221.206/

  • Setelah muncul tampilan Menu pilih “OFFLINE”

  • Setelah muncul menu Koneksi Database LOKAL selanjutnya klik pada tombol “BROWSE”

 

Kemudian pilih file “data_lokal_03” yang juga di sertakan dalam DVD yang di berikan sewaktu registrasi atau bisa di download di alamat : http://118.98.221.206/

  • Setelah data lokal berhasil di koneksinak langkah selanjutnya adalah memasukan “AKUN PETUGAS” , Akun Petugas adalah nomer peserta yang di berikan pada saat pelatihan Guru Inti

Jika kita lupa dengan nomer peserta maka langkah kita selanjutnya ada klik pada tombol “Cari Akun Petugas”

  • Pada tampilan menu “Pencarian Biodata Peserta”

  1. Pilih Propinsi : Jawa Tengah
  2. Pilih Kabupaten/Kota : Pilih sesuai kab/kota kita
  3. Pilih Jenjang
  4. Setelah muncul nama nama sekolah, klik pada sekolah
  5. Setelah muncul nama peserta, klik pada nama kita
  6. Klik pada tombol “Gunakan Sebagai AKUN Saya”

     

  • Pastikan nama kita sudah tercantum dalam “Akun Petugas” kemudian klik tombol “LOGIN”

Jangan lupa untuk mencatan kode peserta atau Akun Kita

  • Langkah selanjutnya klik pada “Informasi Peserta”

  • Klik pada
  1. Pada kategori, pilih pada “Daftar Peserta Per MAPEL” untuk jenjang SMP-SMA-SMK dan pilih pada “Daftar Peserta Per SEKOLAH”
  2. Propinsi : Jawa Tengah
  3. Kab./Kota : Pilih kab./Kota Sasaran Pendampingan
  4. Jenjang : Pilih Jenjang sekolah sasaran Pendampingan
  5. Mapel : Pilih mapel sasaran pendampingan
  6. Klik Pada “Daftar Peserta Per Mapel”

  • Klik pada “Tampil Daftar PTK”

  • Setelah muncul daftar PTK klik pada “Buat File Excel Pendampingan”, untuk membuat file master excel pendampingan.

  • Klik pada tombol “SAVE”

  • Akan ada proses pembuatan File Excel, jika sudah selesai muncul notifikasi, perhatikan Lokasi penyimpanan File Excel kemudian klik OK,

  • Lihat file excel yang di dihasilkan dengan menggunakan Windows Explorer di lokasi yang sebelumnya di tampilkan
  • Ada dua jenis file excel, yang pertama Buku Raport yang berisi nilai dari semua daftar PTK sasaran sedangkan satunya adalah instrument per tiap PTK Sasaran

    Pencatatan semua hasil pendampingan dituangkan ke dalam file master excel pendampingan per individu dengan langkah sebagai berikut :

  1. Buka file master excel sesuai dengan nama guru yang sudah dibuat di tahapan 1

    Jika nama guru tidak terdaftar sebelumnya anda bisa mengkopi file tersebut dengan nama file sesuai dengan nama guru yang didampingi.

  2. Isilah biodata sesuai dengan responden yang tepat.
  3. Catat semua hasil pendampingan dalam file excel seperti dibawah ini

 

 

Proses Upload File Instrument

Ada beberapa ketentuan yang perlu di perhatikan

  • AKUN yang digunakan harus sama dengan Kode Peserta dalam yg tertera dlm File Excel
  • AKUN diberikan kepada peserta yg menjadi PENDAMPING dengan kode AKUN = Nomor Peserta
  • Password Sama AKUN (Untuk Pertama kali )

 

Langkah langkah Upload File Excel

  • Buka kembali aplikasi pendampingan atau jika dalam kondisi terbuka klik pada tombol “Koneksi”

  • Kalau sebelumnya menggunakan offline untuk proses ini kita klik tombol “ONLINE”, pastikan komputer sudah terhubung dengan internet.
  • Masukan akun dan password (Akun=nomer peserta, Password untuk pertama kali login sama dengan Akun)

    Klik Login

  • Kita di minta mengedit Profile Pengguna pada saat Pertama kali login, hal yang harus kita isi dan ganti adalah,

     

     

     

    • Status : di rubah menjadi Aktif
    • No HP : Isikan nomer HP Kita
    • Password Baru : Masukan password baru

    Klik Save jika sudah sesuai, dan kita di minta Login Ulang menggunakan Password yang Baru

  • Setelah berhasil login, klik pada tombol “Pelaporan”

  • Langkah pengiriman pelaporan hasil pendampingan :
  1. Menu Pengiriman Laporan
  2. Menu Buka file master excel dan pilih file yang akan dikirim
  3. Pilih sheet (“Instrumen Pendampingan”) dan kirim data ke server

 

  • Proses pengiriman pelaporan hasil intrumen akan memberikan catatan di file master excel berupa tanggal dan jam pengiriman.

     

     

Proses sudah selesai, lakukan proses upload pelaporan ke semua file excel instrumen sasaran kita. Terima kasih. Jika masih ada kesulitan silahkan hubungi Narasumber yang mengajar dan silahkan bergabung dengan group FB yang membahan mengenai penggunaan aplikasi pendampingan kur 2013 dengan alamat : https://www.facebook.com/groups/pendampingankur2013/

 

 

LAPORAN PENELITIAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA PEMBELAJARAN PERBAIKAN (REMEDIAL TEACHING) MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI PEER COACHING DI SD NEGERI KEDUNGPUCANG, BENER, PURWOREJO

Oleh

Drs. Mujiyanto Paulus, M.Pd.

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN JAWA TENGAH

2013

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah.

    Masalah klasik yang sering dialami oleh guru adalah ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar ini ditentukan oleh kemampuan setiap siswa untuk menguasai sejumlah kompetensi yang dipelajari. Semakin tinggi kemampuan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan akan semakin tinggi daya serap yang diperoleh. Dalam kenyataannya (berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru yang peneliti temui) tidak sedikit siswa yang memiliki kompetensi di bawah standar yang telah ditetapkan. Standar yang dimaksud di sini adalah Standar Ketuntasan Minimal (KKM).

    KKM ini telah ditetapkan oleh guru sejak awal tahun pelajaran. Dalam menetapkan KKM guru tidak sekadar asal menetapkan. Ada beberapa acuan yang dipergunakan guru dalam menetapkan KKM, di antaranya input siswa, kompleksitas materi pelajaran, dan daya dukung. Daya dukung di sini meliputi sarana/prasarana yang ada maupun kemampuan guru itu sendiri. Dengan ditetapkannya KKM tersebut akan digunakan oleh guru dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan kemampuan siswa. Guru akan berusaha semaksimal mungkin agar semua siswa memiliki kompetensi minimal sama dengan KKM yang telah ditentukan.

    Kenyataan menunjukkan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Kedungpucang, Purworejo, pencapaian KKM tidak semudah yang diharapkan. Dalam setiap akhir pembelajaran kompetensi dasar tertentu, tidak semua siswa dapat mencapai nilai di atas KKM. Menurut perhitungan rata-rata ada sekitar 15 % siswa belum mencapai KKM yang telah ditentukan. Kenyataan ini akan menjadi semakin serius apabila tidak segera diatasi. Salah satu kegiatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melaksanakan pembelajaran perbaikan (remedial teaching). Guru perlu memprogramkan dan melaksanakan pembelajaran perbaikan untuk mengatasi siswa yang belum tuntas.

    Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik untuk mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah khusunya pendidikan dan tenaga kependidikan lainnya. Untuk itu, perlu adanya panduan yang memberikan arah serta petunjuk bagi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah tentang bagaimana pembelajaran tuntas seharusnya dilaksanakan. Untuk mencapai dan memenuhi ketuntasan belajar tersebut langkah berikutnya adalah melalui proses pembelajaran perbaikan (remedial teaching).

    Pembelajaran perbaikan merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik tertentu untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran perbaikan, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.

    Apabila dijumpai adanya peserta didik yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran perbaikan (remedial teaching). Dengan dilakukannya
    pembelajaran perbaikan (remedial teaching) bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran perbaikan (remedial teaching).

    Belum efektifnya pelaksanaan program perbaikan di sekolah sebagian besar guru beralasan kesulitan mengatur waktu, sebab kalau dilaksanakan pada jam belajar efektif kendalanya :

    1. Mengurangi jatah waktu belajar efektif yang telah diprogram untuk memenuhi target kurikulum sesuai kalender pendidikan yang telah disusun,
    2. Masih banyak mengalami kesulitan dalam mengelola kelas dengan dua macam kegiatan pembelajaran sekaligus pada waktu yang bersamaan yaitu perbaikan dan pengayaan.
    3. Masih rendahnya kemampuan guru dalam memilih metode dan strategi yang tepat untuk melaknasakan program pembelajaran perbaikan,
    4. Jumlah peserta didik yang menjadi tanggung jawab untuk dilayani guru sesuai jumlah jam mengajarnya cukup banyak, mengingat untuk program perbaikan lebih merupakan bimbingan individual.
    5. Sebagian besar guru dalam melaksanakan program perbaikan orientasinya semata-mata hanya untuk memperbaiki angka/nilai, bukan untuk penguasaan kompetensi sehingga pelaksanaan perbaikan umumnya berupa tes ulang dan berulang sampai nilainya berubah dan mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini terjadi sejak diberlakukannya kurikulum 1994 dan sistem kenaikan pangkat jabatan guru dengan penetapan angka kredit (PAK), dimana tupoksi guru yang kelima adalah melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.

    Atas dasar pertimbangan di atas untuk dapat melaksanakan pembelajaran perbaikan dengan maksimal kompetensi guru tentang pembelajaran perbaikan perlu ditingkatkan. Salah satu jenis kegiatan yang kemungkinan dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru tentang pembelajaran perbaikan adalah melalui pelatihan teman sejawat (Peer Coaching). Oleh sebab itu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi peneliti sebagai widyaiswara, peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul ” PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA PEMBELAJARAN PERBAIKAN (REMEDIAL TEACHING) MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI PEERCOACHING.

  2. Rumusan Masalah
    1. Rumusan Masalah
      1. Bagaimanakah kemampuan rata-rata guru SD Negeri Kedungpucang, Purworejo dalam melaksanakan pembelajaran perbaikan (remedial teaching) mata pelajaran bahasa Indonesia Indonesia untuk mencapai ketuntasan belajar sesuai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan?
      2. Apakah dengan peer coaching dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran perbaikan (remedial teaching)?
      3. Model pembelajaran perbaikan (remedial teaching) bagaimanakah yang sesuai bagi siswa SD Negeri Kedungpucang, Purworejo dalam mencapai ketuntasan belajar?

        Lanjut Baca »

MENINGKATKAN KINERJA GURU PEMANDU MGMP SMP MATA PELAJARAN MATEMATIKA PROGRAM BERMUTU JAWA TENGAH MELALUI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN MODEL CASCADE

Oleh: Dra.Suminarsih,M.Si

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

 

  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang

       

    Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan guru untuk memiliki: (i) kualifikasi akademik minimum S1/D-IV; (ii) kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; dan (iii) sertifikat pendidik. Agar guru dapat memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana yang diamanatkan pada undang-undang tersebut di atas, maka guru harus senantiasa meningkatkan kompetensinya secara terus menerus melalui berbagai upaya antara lain pelatihan, kegiatan karya tulis ilmiah, pertemuan di kelompok kerja dan musyawarah kerja yang terdiri dari: Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS).

     

    Khusus untuk MGMP, sampai saat ini ada beberapa MGMPyang belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Di sisi lain, FMGMP yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja MGMP belum terbentuk di tiap kabupaten/kota.(Pedoman DBL, Kemdikbud, 2010)

     

    Untuk meningkatkan kompetensi mengajar guru, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional telah menerapkan berbagai program. Program-program tersebut antara lain dalam bentuk pendidikan dan latihan, penataran-penataran, penyempurnaan kurikulum, pengadaan sarana dan prasarana belajar serta peningkatan manajemen sekolah. Namun kenyataannya, berbagai upaya tersebut kurang memberikan hasil yang memuaskan, sebagaimana dikemukakan Djam’an Satori (2003:12) “dalam rangka meningkatkan kompetensi mengajar guru, telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah, seperti penataran dan penambahan fasilitas pendidikan. Akan tetapi usaha-usaha tersebut masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan”. Salah satu bentuk yang diupayakan dalam meningkatkan komptensi mengajar guru adalah melalui pemberdayaan organisasi profesi guru, termasuk Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP Provinsi Jawa Tengah .

     

    Kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam menciptakan kelompok kerja/musyawarah kerja yang aktif dan efektif selain hal tersebut di atas adalah sebagai berikut:

    1. manajemen MGMP masih perlu ditingkatkan kualitasnya dalam upaya optimalisasi intensifikasi pembinaan kegiatan MGMP.
    2. program-program kegiatan MGMP masih kurang sesuai dengan kebutuhan pengembangan profesionalitas guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.
    3. dana pendukung operasional belum memadai dan kurang dimanfaatkan secara tepat.
    4. bervariasinya perhatian dan kontribusi pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan terhadap program dan kegiatan MGMP.
    5. belum ada faktor pendorong untuk membentuk FMGMP

    Upaya untuk merevitalisasi MGMP yang ada, dan membentuk FMGMP agar kegiatan yang dilakukan di setiap MGMP dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan kompetensi dan kinerja guru, sangat diperlukan. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk menumbuh kembangkan budaya pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan siswa dan kelas, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas proses pembelajaran yang berujung pada peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

    Dalam rangka meningkatkan kinerja MGMP yang akan memberikan dampak peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDM dan PMP) bekerjasama dengan Bank Dunia melalui program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) yang dilaksanakan di 15 propinsi se Indonesia, Jawa Tengah salah satunya. Program BERMUTU di khususkan untuk jenjang SD dan SMP sebagai bentuk sukses wajar 9 tahun. SD meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS dan tematik, sedangkan SMP mata pelajaran Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan IPA.

    Kabupaten mitra Program BERMUTU di Jawa Tengah meliputi Kabupaten Banyumas, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Brebes, Kabupaten Batang, Kabupaten Blora, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Jepara dan Kabupaten Grobogan. Program BERMUTU dilaksanakan selama 3 tahun untuk tiap-tiap kelompok kerja, untuk pelaksanaannya diberikan dana bantuan langsung yang besarnya bervariasi setiap tahunnya dan setiap kelompok/musyawarah kerja berdasarkan kebutuhan masing.masing.

    Berdasarkan POM BERMUTU 2008, pelaksanaan program BERMUTU meliputi 4 komponen yaitu:

    1. Reformasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
    2. Penguatan Struktur Pengembangan Guru di Tingkat Daerah.
    3. Reformasi Akuntabilitas Guru dan Sistem Insentif untuk Peningkatan Kinerja dan Karir Guru.
    4. Peningkatan Program Koordinasi, Pemantauan dan Evaluasi

    Komponen 2 program BERMUTU yaitu penguatan struktur pengembangan guru di tingkat daerah dilaksanakan salah satunya melalui pengautan kinerja kelompok/musyawarah di KKG/MGMP/KKKS/MKKS/KKPS/MKPS.

    Keterlaksanaan kegiatan dikelompok/musyawarah kerja memerlukan guru/KS/pengawas pemandu yang bertugas sebagai fasilitator kegiatan pelatihan di kelompok kerja. Pada makalah ini pembahasan khusus pada MGMP matematika SMP program BERMUTU mata pelajaran matematika berjumlah 41 dari 1401 penerima dana bantuan langsung tahun 2013.

    Sebagai pengendalian kegiatan MGMP ditetapkan tagihan program BERMUTU, mulai tahun 2011 tagihan BERMUTU meliputi: 1) kurikulum sekolah dan silabus; 2) RPP setiap SK dan KD; 3) Jurnal belajar; 4) analisis soal dan bank soal; 5) Hasil KTI; 6) CPD dan peta guru; 7) rapot guru.

  • Hasil monitoring dan evaluasi program BERMUTU tahun 2011 pencapaian kwantitas tagihan di MGMP matematika se Jawa Tengah tercapai 73%, kualitas tagihan 3,20 katagori baik dan kinerja guru pemandu 3,40 termasuk katagori baik. (Sumber Laporan Monitoring dan Evaluasi program BERMUTU Jawa Tengah Tahun 2011). Namun hasil mid term PCU Program BERMUTU di beberapa daerah se Indonesia diperoleh kesimpulan guru pemandu tidak berfungsi dengan baik, berdampak program BERMUTU kurang efektif terhadap pembejalajaran.
  •  

    Untuk meningkatkan kinerja guru pemandu perlu dibekali dengan diklat agar dapat memfasilitasi MGMP dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas tagihan tersebut. LPMP Jawa Tengah menyelenggarakan diklat guru pemandu SMP program BERMUTU mata pelajaran matematika mengacu pada struktur program dari Natoinal Core Team (NCT) Program BERMUTU dengan model berantai atau cascade .

    Pengumpulan data pada makalah ini dari hasil pre dan post tes peserta diklat, pengamatan keaktifan selama proses diklat guru pemandu dengan peserta 75 dari 82 orang pada angkatan I dari 2 angkatan. Pada penulisan makalah ini guru pemandu MGMP SMP Program BERMUTU mata pelajaran matematika di provinsi Jawa tengah selanjutnya hanya ditulis guru pemandu. Hal tersebut semata-mata hanya memudahkan dalam penulisan dan komunikasi saja.

  1. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang di atas maka  permasalahan pada makalah ini adalah ;

  • Model diklat seperti apakah yang dapat meningkatkan kinerja guru pemandu ?
  • Apakah setelah mengikuti diklat, guru pemandu dapat meningkatkan kinerja guru pemandu dalam memfasilitasi di MGMP ?

     

  1. Tujuan

    Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

    1. Memaparkan model diklat guru pemandu berbasis kinerja sehingga dapat meningkatkan kinerja guru pemandu
    2. Untuk mengetahui peningkatan kinerja guru pemandu dalam memfasiltasi kegiatan di MGMP.

       

  2. Manfaat

    Manfaat dari penulisan makalah ini adalah memberikan gambaran kinerja guru pemandu setelah mengikuti diklat berbasis kinerja, kepada:

    1. LPMP : memberikan gambaran keterlaksanaan diklat dan kinerja alumni peserta diklat dalam memfasilitasi kegiatan di kelompok kerja.

       

    2. Dinas Pendidikan: memperoleh informasi kinerja guru pemandu dalam memfasilitasi kegoatan kelompok kerja, sehingga memperoleh peta kinerja guru pemandu yang nantinya dapat digunakan untuk membantu program pengembanagan keprofesian di daerah.

       

    3. Guru Pemandu : memotifasi diri dalam melaksanakan kinerja fasilitasi di kelompok kerja.

     

    1. KAJIAN TEORI

       

    2. Guru Pemandu

      Guru (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalambahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta (Wikipedia, 2013)

       

      Kamus Bahasa Indonesia menuliskan guru adalah orang yg pekerjaannya (mata pen-cahariannya, profesinya) mengajar. UU Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1 menyatakan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah .

       

      Guru perlu menjaga profesionalismenya, maka guru perlu melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) yang meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif (Pusbangprodik,2012;2). Dalam melaksanakan tugas keprofesiannya guru berhak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya (UU Guru dan Dosen pasal 14, ayat 1 (d). kegiatan PKB guru dapat dilakukan secara in formal, semi formal dan formal baik di sekolah, jejaring sekolah maupun di penyelenggara diklat berdasarkan kepakaran (pusbangprodik, 2012; 18).

       

      Kegiatan PKB guru pada jejaring sekolah diantaranya melalui MGMP yang difasilitasi oleh guru pemandu. Guru Pemandu adalah guru inti yang terpilih dari kelompok-kelompok kerja

      guru di KKG/MGMP yang bersangkutan dan membantu tugas-tugas Tim Inti Kabupaten/Kota (DCT) dalam melakukan pembinaan guru di daerahnya masing-masing (Kemdikbud, 2009; 22).

       

      Tugas dan fungsi guru pemandu adalah (Kemdikbud, 2009; 33):

      1. mengikuti secara aktif kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal PMPTK yang dibantu oleh NCT,PCT dan DCT;
      2. menyusun rencana kerja (action plan), jangka panjang maupun jangka pendek, tentang kegiatan pembelajaran di KKG/MGMP/KKKS/MKKS/ KKPS/MKPS;
      3. memandu kegiatan belajar dalam kegiatan pelatihan di KKG/MGMP/KKKS/MKKS/KKPS/MKPS;
      4. membimbing guru dalam menerapkan materi pelatihan untuk peningkatan mutu pembelajaran di kelas.menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di KKG/MGMP/ KKKS/MKKS/KKPS/MKPS; sesuai dengan Panduan Belajar dan Rambu-Rambu Pengembangan Kegiatan yang telah ditetapkan;
      5. menjamin pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam tiga jenis pembelajaran, yakni (1) kegaitan belajar tatap muka (KBTM), (2) kegiatan belajar terstruktur (KBTS), dan (3) kegiatan belajar mandiri (KBMD) di KKG/MGMP/KKKS/MKKS/KKPS/MKPS;
      6. menyusun laporan kegiatan dan disampaikan kepada DCT.

      Guru pemandu MGMP SMP Program BERMUTU dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan Pedoman Dana bantuan Langsung, Panduan pelatihan yang diterbitkan oleh NCT, dan hasil dari diklat guru pemandu yang dilaksanakanakan baik oleh LPMP, P4TK, maupun Project Coordinator Unit BERMUTU

      Banyaknya guru pemandu di MGMP minimal sebanyak 2 (dua) orang, memiliki masa kerja 3 tahun. Pemilihan guru pemandu dilakukan oleh anggota kelompok dan mendapatkan persetujuan dari Dinas Pendidikan. Berdasarkan kesepakatan Pengelola Program BERMUTU Kabupaten dan LPMP Jawa Tengah, persyaratan guru pemandu diantaranya adalah:

      1. Kualifikasi pendidikan minimal S-1,
      2. Berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil),
      3. Berprofesi Guru / Kepsek / Pengawas / Widyaiswara/Dosen yang masih aktif,
      4. Minimal golongan IIIc,
      5. Pernah melakukan PTK (Penelitian Tindakan Kelas),
      6. Menguasai dasar-dasar TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi),
      7. Usia maksimal 50 tahun, dan
      8. Memiliki komitmen tinggi terhadap program BERMUTU

       

      Pada pelaksanaanya pemilihan dan penentuan guru pemandu jika belum memenuhi

      kriteria yang disepakati dapat menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan MGMP setempat.

       

      Kinerja guru pemandu dalam menfasilitasi kegiatan kelompok kerja memerlukan kompetensi tertentu. Disamping menguasai materi, trampil memilih metode/strategi/model pelatihan juga harus menguasai andragogi (pembelajaran orang dewasa).

       

      Bebeberapa pendapat dari para ahli yang dikutip dalam (http://ronawajah.wordpress.com/2007/05/29/kinerja-apa-itu/) yaitu:

      1. Kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovitch and Keeps: 1992).
      2. Kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja. (Griffin: 1987).
      3. Kinerja adalah melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakan sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.

      sedangkan Maluyu S.P. Hasibuan (2001:34) dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kinerja# Pengertian_Kinerja mengemukakan “kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.

      Dapat disimpulkan bahwa pengertian kinerja yaitu suatu hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan moral dan etika.

       

      Kinerja guru pemandu dapat diartikan hasil kerja guru pemandu dalam memfasilitasi kegiatan di MGMP dalam upaya pemenuhan tagihan program BERMUTU dan kelancaran kegiatan di MGMP.

       

    3. MGMP Program BERMUTU

      Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah wadah kegiatan profesional bagi para guru mata pelajaran yang sama pada jenjang SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK di tingkat kabupaten/kota yang terdiri dari sejumlah guru dari sejumlah sekolah (Direktorat Profesi, 2010; 4). Berdasarkan Rambu-Rambu Pengembangan KKG dan MGMP tahun 2010, anggota KKG atau MGMP berasal dari guru sekolah negeri dan guru sekolah swasta, baik yang berstatus PNS maupun bukan PNS. Anggota MGMP terdiri dari guru mata pelajaran di SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK (setiap mata pejalaran membentuk MGMP), yang berasal dari 8 – 10 sekolah atau disesuaikan dengan kondisi daerah setempat dan pembentukannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

       

      Dinas Pendidikan kabupaten mitra program BERMUTU di Jawa Tengah memfasilitasi pembentukan KKG/MGMP sesuai rambu-rambu penyelenggaraan KKG/MGMP dalam bentuk cluster teridiri dari 8 sd 10 sekolah. Untk MGMP keanggotaan berkisar 20 sd 40 orang.

       

      Data kelompok/musyawarah kerja di kabupaten mitra BERMUTU Jawa Tengah tahun 2012 adalah sebagai berikut:

       

        

KABUPATEN 

MGMP

JUMLAH 

IND III 

ING III 

MAT III 

IPA III 

JEPARA 

3 

3 

3 

3 

12 

BLORA 

4 

4 

4 

4 

16 

GROBOGAN 

4 

2 

6 

4 

16 

WONOSOBO 

4 

4 

4 

4 

16 

WONOGIRI 

4 

4 

4 

4 

16 

BATANG 

4 

4 

4 

4 

16 

PEKALONGAN 

4 

3 

3 

2 

12 

BANJARNEGARA 

4 

4 

4 

4 

16 

BANYUMAS 

4 

4 

4 

4 

16 

BREBES 

4 

3 

5 

4 

16 

JUMLAH

39 

35 

41 

37 

152 

 

    Dana bantuan langsung yang diterima MGMP selama 3 (tiga) tahun adalah tahun pertama Rp. 20.000.000,00, tahun ke-2 Rp. 18.000.000,00 dan tahun ke-3 Rp. 17.000.000,00. Selain dana juga difasilitasi oleh program BERMUTU Bahan Belajar Mandiri (BBM) Mata pelajaran, panduan, modul-modul belajar dalam bentuk cetak dan sebagian dalam bentik soft copy.

Model pelatihan di MGMP program BERMUTU meliputi in-service satu kali pertemuan, pertemuan rutin sebanyak 16 kali dan on-sevice disesuaikan kebutuhan sekolah dan guru, pemilihan materi diklat menggunakan training need assessment (TNA), hasil penilaian kinerja dan pemenuhan tagihan program BERMUTU. Rencana kegiatan tersebut dituangkan dalam proposal kegiatan contoh dari jadwal kegiatan , sebagai berikut:

NO 

NAMA KEGIATAN 

KETERANGAN 

In service 

Kegiatan dilakukan 1 hari penuh sebagai persiapan kegiatn rutin, boleh menggunakan DBL untuk konsumsi. 

PK Guru dan PKG 

4 pertemuan, yaitu pertemuan 1 sd 4, dengan ketentuan:

Pertemuan 1: PK guru

Pertemuan 2: PK guru

Pertemuan 3: PKB

Pertemuan 4: induksi. 

Pemenuhan 7 (tujuh) tagihan Program BERMUTU 

± 7 pertemuan untuk 7 tagihan, penyebarannya disesuaikan dengan kebutuhan berdasakan TNA. Tidak harus satu tagihan satu pertemuan. Missal untuk jurnal tdak perlu pertemuan khusus karena sudah rutin dilakukan di setiap akhir kegiatan.

Untuk KTI mungkin memerlukan 2 sd 3 pertemuan, demikian pula untuk analisis butir soal memerlukan lebih dari satu pertemuan dst. 

Pendalaman materi/ penguatan pembelajaran aktif/ kinerja guru

Memilih materi yang diperlukan sesuai TNA, dan menggunakan modul suplemen dari P4TK atau sumber lain ± 2 pertemuan 

Penyusunan laporan 

2 (dua) pertemuan

Pertemuan ke 15: inventarisasi dan pemenuhan tagihan anggota, dan penyusunan draft laporan oleh pengurus

Pertemuan ke 16: finalisasi laporan kegiatan individu (kelengkapan tagihan individu) dan kelompok . 

 

  1. Pendidikan dan Pelatihan Model Cascade

    Untuk meningkatkan kinerja guru pemandu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah menerapkan berbagai program. Program-program tersebut antara lain dalam bentuk pendidikan dan latihan, penataran-penataran, penyempurnaan kurikulum, pengadaan sarana dan prasarana belajar serta peningkatan manajemen sekolah. Namun kenyataannya, berbagai upaya tersebut kurang memberikan hasil yang memuaskan, sebagaimana dikemukakan Djam’an Satori (2003:12) “dalam rangka meningkatkan kompetensi mengajar guru, telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah, seperti penataran dan penambahan fasilitas pendidikan. Akan tetapi usaha-usaha tersebut masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan”. Salah satu bentuk yang diupayakan dalam meningkatkan kinerja guru pemandu adalah melalui pemberdayaan organisasi profesi guru, termasuk Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP Provinsi Jawa Tengah.

     

    Hadari Nawawi (1997:215–216) mengemukakan “pelatihan pada dasarnya berarti proses memberikan bantuan bagi para pegawai untuk menguasai keterampilan khusus atau membantu untuk memperbaiki kekurangannya dalam melaksanakan pekerjaan”. Sementara Muharman (1992:23) mengemukakan “pelatihan merupakan bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori”.

 

Selanjutnya Kamilah (1996:9) mengemukakan “pelatihan merupakan suatu proses penyesuaian pengetahuan, sikap dan keterampilan seorang pegawai dengan bidang tugasnya pada masa sekarang dengan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan tambahan sesuai dengan bidang pekerjaannya yang sedang digelutinya”.

 

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa pelatihan adalah proses merekayasa perilaku orang sedemikian rupa dalam aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas kerjanya yang sudah ada secara lebih optimal sebagai akibat tuntutan profesi dan perkembangan lingkungan.

 

Pendidikan dan pelatihan berantai merupakan pelatihan menggunakan pola, materi dan narasumber/fasilitator terstandar. Diklat mulai dari Natonal Core Team (NCT)/tim inti nasional, Provincial Core Team (PCT)/tim inti provinsi, Distric Core team (DCT)/tim inti kabupaten sampai guru pemandu. Berikut adalah ilustrasi diklat model cascade


 

 

 

 

Untuk menghindari distorsi model, materi dan fasilitator maka model diklat desainnya sebagai berikut:


 

 

 

KETERANGAN:

A    : Tim Pengembang Nasional

B    : National Core Team (NCT)

C    : Provincial Core Team (PCT)

D    : District Core Team (DCT)

 

Kegiatan dilakukan secara hirarki, dimulai dari diklat NCT, PCT, DCT baru diklat guru pemandu. Secara berjenjang setiap kegiatan ada pendampingan. Kegiatan PCT akan didampingi oleh NCT alumni diklat NCT, diklat DCT didampingi oleh NCT dan atau PCT alumni diklat, sedangkan diklat guru pemandu didampingi oleh NCT/PCT/DCT alumni diklat.

 

Pendampingan dilakukan untuk membantu apabila pelaksana diklat memerlukan bantuan teknis. Pendampingan juga dimaksudkan menjamin pelaksanaan diklat sesuai dengan alur, materi dan model yang terstandar.

 

  1. PELAKSANAAN DIKLAT GURU PEMANDU MGMP SMP PROGRAM BERMUTU MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI JAWA TENGAH

     

  • PELAKSANAAN DIKLAT

Model diklat guru pemandu yang dirancang dalam Program BERMUTU selain berbasis kelompok kerja, pengembangan dan diseminasinya menerapkan model berantai atau cascade. Model ini dimulai dengan pengembangan model di tingkat nasional oleh National Core Team (NCT) atau Tim Inti Nasional diikuti dengan diseminasi di tingkat provinsi melalui diklat Provincial Core Team (PCT) atau Tim Inti Provinsi, dan di tingkat kabupaten/kota melalui diklat District Core Team (DCT)
atau Tim Inti Kabupaten/Kota. Selanjutnya, DCT akan melatih sejumlah guru/kepala sekolah/pengawas sekolah pemandu yang akan berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan diklat yang dilaksanakan oleh kelompok kerja, KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS.

Dalam mengimplementasikan model cascade, harus didukung oleh diklat yang terstandar. Oleh sebab itu disusun sistem, model dan modul diklat untuk NCT, PCT, DCT dan guru pemandu. Berdasarkan panduan dan laporan diklat guru pemandu yang diterbitkan LPMP Jawa Tengah, deskripsi diklat guru pemandu sebagai berikut:

  1. Tujuan diklat :
    1. Sebagai upaya memberdayakan guru pemandu dalam melaksanakan tugasnya memfasilitasi kelompok kerja dan melaksanakan kegiatan Program BERMUTU sesuai dengan proposal kegiatan yang diajukan dan tagihan yang dituntut kepada MGMP;
    2. Mendapatkan guru pemandu yang kompeten, dalam memfasilitasi kelompok kerja tersebut dipandu, difasilitasi untuk melaksanakan pengembangan diri, menganalisis kurikulum, menyiapkan pembelajaran, membuatan jurnal, melakukan kajian kritis, membangun bank soal, menyusun rancangan Penelitian Tindakan Kelas atau sesuai dengan proposal kegiatan tahun 2012;
    3. Menghasilkan guru pemandu yang akan menyelenggarakan Diklat bagi guru di MGMP;
    4. Menghasilkan guru pemandu yang terampil memberdayakan guru yang menjadi anggota MGMP;
    5. Guru pemandu dapat melakukan simulasi dan contoh-contoh atau teknik penerapan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa, pemberdayaan peserta pelatihan Guru Pemandu dalam melaksanakan tugas mengelola pendidikan dan pelatihan (diklat) Program BERMUTU di MGMP.

 

  1. Sasaran Kegiatan
    1. Judul kegiatan : Kegiatan yang dilaksanakan oleh LPMP Jawa Tengah berjudul Diklat Guru Pemandu MGMP Matematika Program BERMUTU Angkatan I dan II Provinsi Jawa Tengah.
    2. Tanggal dan Tempat Kegiatan

      Pelaksanaan diklat angkatan I tanggal 29 September sd 3 Oktober di Hotel Lor In Surakarta

      Pelaksanaan diklat angkatan II tanggal 5 sd 9 Oktober di Hotel Grand Setiakawan Surakarta

       

    3. Peserta

      Peserta diklat guru pemandu matematika seluruhnya 82 orang dari 41 MGMP, namun karena sesuatu hal maka peserta dari Brebes dan Grobogan tidak dapat ikut diklat bersama guru pemandu matematika dari kabupaten lain, sehingga peserta diklat terdiri dari 75 orang dalam dua angkatan. Angkatan I terdiri dari 40 orang dan angkatan II 35 orang.

 

  1. Struktur Program Diklat

    Struktur program diklat sebagai berikut:

NO 

MATA DIKLAT 

TEORI 

PRAKTIK 

JUMLAH 

UMUM 

     
 
  1. Kebijakan Nasional Tentang PTK

 

 
  1. Kebijakan Tentang Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru (PKG, PKB, PIGP)

2

 

2

POKOK: 

     
 
  1. Metode Andragogi

 
  1. Kapita Selekta Tagihan Program Bermutu

 
  1. Pengelolaan Kegiatan Kelompok Kerja

3

5

 
  1. PK Guru & PKB

5

7

 
  1. Penggunaan Modul Mata Pelajaran

4

6

 
  1. Peer Teaching

10 

 
  1. Pengelolaan Kegiatan Diklat Guru Pemandu

III 

PENUNJANG 

     
 
  1. Dinamika Kelompok/Capacity Building
 

3

3

 
  1. Program Tindak Lanjut
 

2

2

 

JUMLAH  

16

34

50

 

  1. Narasumber dan fasilitator

Narasumber dan fasilitator diklat terdiri dari Kepala LPMP Jawa Tengah, NCT dan PCT alumni diklat PCT program BERMUTU yang lulus dengan katagori A, dan staf structural LPMP Jawa Tengah.

 

  1. Evaluasi terhadap peserta

Evaluasi terhadap peserta berupa test (pre dan post test) dan pengamatan sikap dan akademik selama kegiatan diklat.

  1. Aspek Penilaian
  2. Nilai Utama :
  • Pre Test (Bobot = 0,2)
  • Post Test (Bobot = 0,3)
  • Tugas (Bobot = 0,2)
  • Peer Teaching (Bobot = 0,3)
  1. Nilai Pendukung :
  • Kehadiran :
    • Hadir = 100 % dari jam, total skor = 0
    • Tidak mengikuti pembukaan, skor hukuman = -5
    • Tidak mengikuti satu sesi dengan penuh, skor hukuman = -5
  • Sikap : (Partisipasi, Kesantunan, dan Kerjasama)
    • Untuk hal-hal negative diberi skor hukuman dengan kisaran -1 s.d. -10.
    • Untuk hal-hal positif diberi skor tambahan dengan kisaran +1 s.d. +15.
  1. Rumus Nilai Akhir

    NA = (0,2 x PrT x 2) + (0,3 x PsT x 2) + (0,2 x T) + (0,3 x PT) + (PsT – PrT) + K + S

Keterangan :

NA     : Nilai Akhir        PT     : Peer Teaching

PrT     : Pre Test        K     : Kehadiran

PsT    : Post Test        S    : Sikap

T     : Tugas

  1. Kriteria Kelulusan dan Kewenangan

Nilai Akhir 

Kriteria Kelulusan 

Kewenangan 

NA < 55 

Tidak Lulus 

Tidak diberikan 

55 ≤ NA < 75 

Lulus Guru Pemandu Kategori B 

Sebagai pengajar Diklat Guru di Kelompok kerja dan menjadi guru pemandu di pokja asal. 

NA ≥ 75 

Lulus Guru Pemandu Kategori A 

Sebagai pengajar Diklat Guru di Kelompok kerja dan menjadi guru pemandu di pokja asal. 

 

  • HASIL DIKLAT
  1. Proses Diklat MGMP SMP Matematika
    1. Kegiatan Awal

    Pelaksanaan diklat selama lima hari, diawali dengan pre tes, sebagai informasi awal kompetensi peserta diklat . setelah pembukaan oleh pimpinan dilanjutkan dengan materi kebijakan Kementrian Pendidikan dan kebudayaan. Materi kebijakan memberikan informasi penting tentang kebijakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang terkait dengan regulasi kependidikan termasuk PKG, PKB dan PIGP dan perkembangan program BERMUTU

     

  2. Kegiatan Pembelajaran
    1. Dinamika Kelompok:

      Tujuan dari Dinamika kelompok adalah :

      Membangun komitmen, kerjasama dengan dasar saling menghormati antar peserta. Kegiatan dikemas dalam game-game yang menarik, sehingga sesama peserta akan saling mengenal. Dalam permainan, di dalam kelompok peserta dituntut menunjukkan kreatifitas dan kerjasama kelompok dalam menyelesaikan tugas-tugas, salah satunya adalah kolase, di mana kelompok diminta untuk membuat rangkaian gambar bermakna dari potongan koran yang bertemakan peran program BERMUTU dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kelompok yang paling unggul mendapat penghargaan.

       

      Selama proses kegiatan semua peserta aktif mengikuti dengan serius tapi santai. Pembagian peran dalam kelompok dan kerjasama menjadi penguatan utama dalam kegiatan dinamika kelompok . Hasil dari kegiatan ini peserta memahami tujuan dari program BERMUTU, dan memiliki komitmen untuk suksesnya BERMUTU dan siap mengikuti diklat dengan komitmen tinggi.

       

    2. Andragogi

          Kompetensi andragogi dibutuhkan peserta dalam memfasilitasi kegiatan MGMP. Materi andragogi disajikan dalam bentuk tugas kelompok yang mengharuskan peserta berbagi peran di kelompok. Pelaksanaan kegiatan memberikan contoh kepada para peserta bagaimana praktik pelaksanaan andragogi.

       

    3. Kapita Selekta Program BERMUTU

      Pemenuhan tagihan BERMUTU memerlukan fasilitator yang dapat memberikan motivasi, bimbingan, dan contoh. Mata diklat ini, mensimulasikan bagaimana fasilitasi yang dilakukan oleh guru pemandu , fasilitator berperan memodelkan guru pemandu di MGMP dan memberikan contoh bagaimana memfasilitasi guru peserta membuat tagihan dan pengumpulannya.

       

      Dari hasil monitoring dan evaluasi tagihan analisis butir soal merupakan tagihan yang cukup rendah prosentasi ketercapaiannya. Untuk itu pelaksanaan sesi analisis butir soal peserta langsung praktik bagaimana melakukan analisis butir soal dan mengumpulkan hasilnya. Dengan harapan nantinya guru pemandu dapat menerapkannya di MGMP , antusias peserta cukup tinggi pada praktik analisis butir soal.

       

      1. Pengelolaan Program BERMUTU

        Paparan pengelolaan program BERMUTU dimulai menjelaskan regulasi yang berhubungan dengan program BERMUTU, dan perkembangan program BERMUTU. Melalui CD materi yang dibagikan, peserta mempelajari Project Operational Manual (POM) BERMUTU, Bahan Belajar Mandiri (BBM) Umum , suplemen dan modul mata pelajaran oleh P4TK dan mempraktikkan akses portal guru pintar web Universitas Terbuka.

        Sesi berikutnya ditampilkanlah simulasi pengelolaan program BERMUTU, simulasi ini diharapkan dapat menggambarkan bagaimana pengelolaan program BERMUTU , mulai dari penyusunan proposal, praktik TNA, kegiatan In-service, pertemuan rutin, on-service, study visit, sampai pelaporan. Simulasi menggambarkan sinergitas peran kepala sekolah dan pengawas dalam melakukan supervisi di kelompok kerja.

        Skenario simulasi dirancang oleh tim pengembang , pemeran simulasi gabungan dari tim faslitator, pendamping dan peserta. Sesi ini mendapat perhatian luar biasa dari peserta karena dapat dipahami dengan jelas pengelolaan program BERMUTU yang benar.

        Dibagian akhir peserta menuliskan refleksi dari kegiatan pengelolaan kelompok kerja, 90% peserta menyatakan sesi ini sangat bermanfaat.

      2. PKG dan PKB

        Diberlakukannya Permenpan dan RB no.16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, program BERMUTU berperan aktif turut mengembangakan mekanisme dan instrumen PKG dan PKB. Maka pada dkilat guru pemandu materi PKG dan PKB menjadi materi inti yang akan melatih guru melaksanakan PKG dan PKB. Kegiatan diawali dengan overview PKG dan PKB dan selanjutnya semua kegiatan adalah praktik bagaiamana melakukan PKG dan PKB.

         

      3. Penggunaan Modul Mata Pelajaran

        Program BERMUTU menyediakan lebih dari 200 judul BBM/modul/suplemen/bahan belajar yang disusun oleh P4TK maupun pengembang program BERMUTU. Sayangnya bahan belajar tersebut belum secara maksimal digunakan guru-guru di kelompok kerja.

         

        Sesi penggunaan modul mensimulasikan bagaimana fasilitasi penggunaan modul di kelompok kerja oleh guru pemandu. Kegiatan dimulai dari ekplorasi judul-judul bahan belajar mata pelajaran matematika dan BBM Umum. Kelompok memilih salah satu bahan belajar dan memsimulasikan penggunaanya di kelompok kerja.

         

        Hasil yang diharapkan setelah simulasi penggunanan bahan belajar/modul mata pelajaran, guru pemandu dapat lebih maksimal dalam mengenalkan dan mengajak guru-guru di MGMP untuk menggunakannya dalam perbaikan pembelajaran di kelasnya.

         

      4. Peer Teaching

        Sebagai bagian akhir dari diklat adalah praktik fasilitasi yang dikemas dalam peer teaching di MGMP. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan memilih salah satu tagihan BERMUTU yang akan disimulasikan di MGMP. Setelah memilih materi, peserta yang mendapat materi simulasi yang sama belajar bersama/sharing penyusunan RPP/rancangan pembelajaran di MGMP.

         

        Praktik simulasi dilakukan di dua ruangan yang berbeda, setiap peserta melakukan simulasi pembelajaran sekitar 20 menit. Diakhir kegiatan peer teaching dilakukan refleksi oleh fasilitator. Diharapkan setelah mengikuti diklat dan praktik simulasi pembelajaran akan menambah rasa percaya diri guru penandu dalam falisitasi di MGMP.

         

      5. Pengelolaan Kegiatan Diklat Guru Pemandu

        Materi pengelolaan egiatan diklat guru pemandu memberikan gambaran bagaimana diklat model cascade ini dapat terjaga standarisasinya, serta memberikan kesempatan kepada peserta/guru pemandu menyampaikan kesulian ataupun keberhasilan memfasilitasi MGMP selama ini dan kesiapan implementasi diklat model cascade.

     

    1. Analisis hasil evaluasi peserta.

      Seperti uraian pada evaluasi terhadap peserta, dilakukan melalui berbagai cara, diantanya melalui hasil pre dan post tes, tugas, peer teaching, sikap, disiplin. Setelah mendapatkan nilai akhir, peserta dikategorikan tidak lulus, lulus sebagai pemandu kategari B dan lulus sebgai pemandu kategori A.

       

      Nilai sikap dan kedisiplinan dilaksanakan melalui pengamatan saat pelaksanaan pembelajaran. Pre dan post tes menggunakan soal pilihan ganda 40 soal, dan peer teaching dinilai saat praktik.

       

      Hasil evaluasi peserta dibahas sesuai dengan katagori, meliputi angkatan I 40 peserta dan angkatan II 35 peserta.

  • a). Nilai pre dan post tes ditunjukkan pada tabel berikut:

NO 

URAIAN 

PRE TES 

POST TES 

ANGK I 

ANGK II 

GAB 

ANGK I 

ANGK II 

GAB 

1

RATA-RATA 

26,5 

27,5 

27 

29,67 

31,5 

30,58 

NILAI TERTINGGI 

34 

34 

34 

37 

36 

37 

NILAI TERENDAH 

18 

20 

20 

22 

26 

26 

        

Tabel di atas menunjukkan adanya peningkatan rata-rata baik di angkatan I dan angkatan II, kenaikan pre tes angkatan I sebasar 11,96%, angkatan II naik 14,55% nilai gabungan naik 13,26%. Secara umum menunjukkan kenaikan yang signifikan, Nilai tertinggi dan terendah juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peserta dengan nilai tertinggi menjawab benar 37 soal dari 40 soal. Peserta dengan nilai terendah juga mengalami kenaikan nilai 33,33 %.

  • Nilai Tugas

seluruh peserta mengumpulkan tugas, 100% peserta angkatan I mendapatkan nilai 80, sedangkan 95% peserta angkatan II mendapat nilai 80 sisanya mendapat nilai 71,11 (catatan: nilai tertinggi 80). Hal ini menunjukkan kesungguhan peserta mengerjakan tugas-tugas, komitmen ini juga mempengaruhi hasil akhir diklat, termasuk menaikkan nilai post tes.

  • Nilai Peer Teaching

Aspek penilaian peer teaching meliputi:

  1. Ketrampilan membuka pelajaran
  1. Penguasaan materi
  1. Kemampuan menerapkan metode pembelajaran
  1. Penggunaan bahasa
  1. Suara (intonasi, volume, vokal)
  1. Gerak (body language)
  1. Cara memotivasi peserta
  1. Ketrampilan bertanya
  1. Ketrampilan memberikan penguatan
  1. Ketrampilan mengelola kelas
  1. Kemampuan menggunakan media
  1. Menutup pelajaran

    

Hasil nilai peer teaching angkatan I rata-rata 90,65 dan angkatan II rata-rata82,86 , menunjukkan praktik fasilitasi di MGMP baik hasilnya. Dari hasil pengamatan saat persiapan peserta bersungguh-sungguh mempersiapkan diri, materi, madia agar saat praktik peer teaching mendapatkan hasil yang baik. Dalam kelompok ahli (yang mengerjakan tugas yang sama) antar peserta saling membantu dan saling memotivasi sehingga dari persiapan peserta tidak mengalami kendala.

Pelaksanaan peer teaching berjalan dengan baik, semua peserta berusaha tampil maksimal. Walaupun rata-rata perolehan nilai cukup tinggi, namun masih ada hal yang bias diperbaiki dalam praktik peer teaching kesungguhan dari penilai cenderung monoton belum dapat bersikap sewajarnya.

        d). Nilai Akhir.

            Capaian nilai akhir peserta diklat adalah sebagai berikut        

NO 

URAIAN 

ANGKATAN I 

ANGKATAN II

Rata-rata 

81,48 

78,45 

Lulus dengan kategori A 

2 (5%) 

5 (14,29) 

Lulus dengan kategori B 

38 (95%) 

29 (82,86) 

Tidak lulus 

1 (2,86) 

 

Peserta angkatan lulus semuanya (100%), 95% lulus dengan kategori B dan 5% lulus kategori B. angkatan II 14,29 lulus kategori A (lebih banyak dari angkatan I), 82,86% lulus kategori A dan ada satu peserta (2,86%) tidak lulus, hal tersebut dikarenakan tidak mengikuti peer teaching dan tidak mengumpulkan tugas (peserta tersebut ijin pulang diklat lebih awal).

e). Pembahasan

Secara umum terdapat kenaikan nilai pre tes, post tes, dan nilai akhir. Hal tersebut menunjukkan model pelatihan cascade terstandar mampu meningkatkan kinerja guru pemandu. Hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan diklat guru pemandu diantaranya:

1). Metode, materi, media dan fasilator diklat terstandar;

2) kompetensi fasilitator amat baik (hasil evaluasi peserta) ;

3) dukungan dari LPMP terhadap kegiatan diklat guru pemandu;

4).komitmen peserta yang tinggi, ditunjukkan kedisiplinan dan keaktifan peserta

5) kerjasama yang baik panitia, fasilitator dan peserta baik.

 

 

 

 

  1. PENUTUP
  1. Kesimpulan

    Guru pemandu memiliki peran stategis dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan di MGMP. Kinerja guru pemandu dapat ditingkatkan melalui diklat. LPMP Jawa Tengah melaksanakan diklat guru pemandu SMP program BERMUTU mata pelajaran matematika. Model diklat yang digunakan adalah model cascade dari PCU, NCT, PCT, DCT dan guru pemandu.

     

    Hasil nilai peserta menunjukkan kenaikan yang signifikan, ditandai kenaikan nilai pre-postesTugas, peer teaching dan nilai akhir. Kenaikan tersebut karena :

    1) Metode, materi, media dan fasilator diklat terstandar;

    2) kompetensi fasilitator amat baik (hasil evaluasi peserta) ;

    3) dukungan dari LPMP terhadap kegiatan diklat guru pemandu;

    4).komitmen peserta yang tinggi, ditunjukkan kedisiplinan dan keaktifan peserta

    5) kerjasama yang baik panitia, fasilitator dan peserta baik.

     

  2. Rekomendasi

    LPMP Jawa Tengah dapat lebih banyak melaksanakan dengan model cascade dengan pola, metode, materi yang sama. Pelaksanaan diklat model cascade memerlukan persiapan yang matang dan terorganisasi.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Depdiknas, 2005, Undang-Undang RI no.14 tahun 2005, Jakarta, Depdiknas
    2. Depdiknas, 2008, Project Operasional Manual Program BERMUTU”, Jakarta, Depdiknas
    3. Dirjen PMPK, 2010, Pedoman Dana Bantuan Langsung MGMP, Jakarta, Kemdiknas
    4. Dirjen PMPTK, 2009, Panduan Operasional Pelaksanaan Tim Inti Peningkatan Profesionalitas Pendidik Dan Tenaga Kependidikan, Jakarta, Pusbangprodik
    5. Dirjen PMPTK, 2010, Panduan Penilaian Kinerja guru, Jakarta, Pusbangprodik
    6. Nawawi. H. 1992. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Sinar Baru
    7. Kamilah. 1996. Manajemen Pelatihan. Bandung : Rosdakarya
    8. Sanusi. A. 2001. Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Jakarta : Depdikbud.
    9. Satori. Dj. 2003. Supervisi Pendidikan, Jepara, UI
    10. Muharman. 1992. Profesionalisasi Kepala Sekolah. Jakarta Depdikbud.
    11.  

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     


     

Banyak sekali masyarakat Indonesia yang tidak sadar bahwa negara kita tercinta, Indonesia. Adalah penghasil kopi terbesar No.3 di Dunia ( Setelah Brazil & Vietnam ).
Dan banyak yang tidak sadar pula bahwa. Biji kopi Indonesia yang berkualitas ( Specialty ) di ekspor keluar negeri. Banyak pula orang Indonesia yang tidak sadar bahwa kopi sachet yang sering mereka minum selama ini seperti : Kapal Aer, Pot Coffee, Tarobikar Dll. Berasal dari kopi yang berkualitas rendah. Bahkan beberapa perusahaan Kopi Sachet mencampurkan bahan asing bersatu bersama biji kopi. Seperti kopi Kapal Aer yang mencampurkan bahan Jagung agar mendapatkan rasa yang gurih dan manis.

Kopi Berkualitas Rendah

Percayakah Agan, Kopi Sachet yang biasa agan biasa minum itu berasal dari kopi berkualitas rendah?. Coba Perhatikan baik-baik !

Harga normal biji kopi Robusta berkualitas baik yang sudah di sangrai di jual di Indonesia berkisar seharga Rp 45.000 per 250 gram. Coba di bandingkan dengan Kapal Aer. Kalian bisa menebus 250 gram bubuk kopi Robusta Cap Kapal Aer hanya dengan Rp 9000 (?). Perbandingan yang cukup “Jomplang” kan?. Hampir mustahil kalau kopi sachetan itu berasal dari biji kopi yang berkualitas baik. Karena dari Modal Biji kopi Robusta berkualitas Cukup baik yang sebelum di sangrai ( Green Bean ) Seharga 50.000 Per Kilo. ( 50000/kilo : 1/4 = 12.500 ). Jadi, Butuh Rp12.500 hanya untuk modal Green Bean nya saja, itu belum termasuk Packaging, Pemasaran, biaya sangrai,dll. Jelas rugi bila di jual dengan harga Rp9000 itu.

Perusahaan-Perusahaan kopi sachet pun mengakali nya dengan cara menggunakan biji berkualitas rendah atau bahkan menggunakan biji yang tidak lolos sortir ekspor ( di beberapa kasus pabrik lokal daerah ). Untuk menekan biaya produksi nya.

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 224 pengikut lainnya.